Pages

Selasa, 06 November 2012

Hari Setelah Esok !

Aku kembali saat kota ini sudah terlelap. Hanya sinar bulan menerobos masuk diantara pohon-pohon rimbun ditepi jalan. Debu jalan bertebaran menyeruak ke atas, terhempas, ke atas, terhempas dan begitulah seterusnya. sebuah siklus yang monoton dikala panas menyerang khatulistiwa. Kecuali jika hujan berbondong-bondong dengan tak sabar ingin menyiramnya. Saat itulah aku tertawa, tertawa karena alam ternyata seperti hidup. Semua akan berubah pada saatnya. Ingin aku kembali ke masa lalu. Tapi aku yakin bukan hanya aku yang ingin seperti itu. Rasanya tak adil jika Tuhan hanya mengabulkan doaku sedangkan jutaan orang disana terus mengeluh dengan kening yang hitam karena terkikis sajadah yang mulai aus. Terlalu naif memang jika aku ingin kembali. Aku teringat akan sebaris kata yang pernah diucapkan seseorang yang pernah kukagumi dahulu. "Waktu bisa dipecahkan jika ada sesuatu yang melebihi kecepatan cahaya". Itu memang hanya sebuah teori, tapi tahukah, kalau banyak orang diluar sana ingin membuat sebuah mesin waktu. Kalaupun ada, aku tak punya sesuatu untuk membeli, menukar, atau membuatnya. Jadi kucoba menikmati saat ini. Lebih bijak jika apa yang aku dapat saat ini disebut sebuah pilihan hidup. Pilihan salah atau pilihan benar, hanya aku yang tahu. Aku hanya percaya dengan satu kalimat basi, "hidup bagaikan roda yang terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah". Saat ini aku mulai merasakan hal itu. Aku mulai beranjak dari bawah untuk terus menuju ke atas. Mungkin saat ini aku berada dalam palung terjauh dalam keterpurukan hidup. Tak ada cahaya harapan, yang ada hanya gelap mencekik leher dan keputusasaan adalah sebuah ancaman. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya. Ku yakin hari itu akan tiba, hari dimana matahari dapat kugenggam dengan bangga karena aku tlah membuat jutaan anak tangga untuk mencapainya. Nantikan aku di hari itu.

0 komentar:

Posting Komentar